Hal-hal yang Menjagaku Tetap “Waras” Selama #DiRumahAja

So its quarantine day…. berapa ya? adakah yang masih menghitung? Mengingat sejak sebelum pandemi pun aku memang sehari-hari #dirumahaja, jadinya keseharianku ga begitu berubah, unless bertambahnya kesibukan dari blessing in disguise yang sebenarnya adalah dampak dari pandemi ini.

Sejak dulu yang aku omat terus demi menjaga kewarasan adalah untuk selalu mengisi pikiran (dengan hal-hal positif) dan tidak denial saat sadar kalau diri ini sedang stress. Saat hari-hari sedang terasa berat, atau anak menjadi rewel yang diluar kebiasaannya, atau diri ini seperti jenuh dan merasa kurang bersemangat, atau pekerjaan rumah berantakan banyak yang ga keurus, biasanya itulah diantaranya ciri-ciri stress melanda diriku. Maka di saat seperti itu, ketika aku sudah sadar ada yang tidak beres, biasanya aku introspeksi, aku flashback ngelamunin beberapa hari ke belakang, mencari tau kira-kira apa yang bikin stress. Kalau sudah ketemu, maka coba atur diri untuk menyelesaikan sumber stressnya, atau langsung minta bantuan. Misalnya nih, aku ternyata overwhelmed sama seseheun, maka aku harus selesaikan itu cucian baju bagaimanapun caranya, walaupun mungkin harus menyita waktu tidurku beberapa hari. Gitu, selesaikan. Kalau malah denial, dan itu cucian diantep, lama-lama makin numpuk kaaan, ya makin stress atuh. Atau kalau ternyata overwhelmed nya sama kumbaheun, dan aku tau itu adalah hal yang bisa dibantu sama Faj, yaudah harus minta tolong Faj bantu cuci piring. Atau mungkin sumber stress kita bisa jadi simply karena kurang tidur, maka tidurlah. Yang cukup. Jangan berlebihan juga yaa hahaha.

Selanjutnya tentang ngisi pikiran, selama pandemi kebantu banget aku sama kegiatan berikut:

Ikutan challenge 7 hari minim sampah. ini adalah kesibukan pertama yang aku rasa ngebantu banget aku tetap waras di awal masa pandemi. Saat itu kami baru banget pindah unit apaato, jadi belum ada wifi karena belum bisa pasang terkait kebijakan apaato tentang social distancing (dulu istilahnya belum physical distancing). Kebetulan juga di unit yang baru, provider kebanggaan yang aku pake entah gimana parah banget banget koneksi internetnya bikin esmosii wkwk. Jadilah momen susah akses internet itu aku alihkan ke pegang kamera, nyempetin motret aktifitas #minimsampah yang kucoba lakukan, kemudian asik tenggelam di editing dan bikin caption. Begitu terus selama 7 hari, disamping tentu saja unpack barang-barang pindahan sedikit-sedikit sekalian beberes sampe nyaman buat ditinggali apaato barunya hehe. Waw ga kerasa loh, aku jadi ga begitu inget lagi sama jeleknya internet, kecuali saat kesulitan pas mau posting aja hahaha.

Ikutan challenge nulis bareng. Kenapa aku poinnya ke “ngisi pikiran”, adalah karena sebagai busui ada momen-momen aku ga bisa (dan ga mau) melakukan apapun selain fokus sama bayi yang lagi nyusu. Dan ketika bayinya udah merem tapi masih nemplok dan mamak belum bisa gerak, itulah saat-saat yang aku bisa pakai buat mikirin tentang ide-ide tulisan atau mencoba merangkai kalimat yang akan ditulis. Maka buatku event-event menulis bareng yang ada temanya tuh ngebantu banget biar ga blahbloh dan bahkan bikin produktif! hehehe. Contohnya tentu saja #amiaricollab ini hehehe. Tanggal 21 adalah waktunya kami nulis tema yang sama dari cara pandang masing-masing. Aku dan Nasar yang punya banyak perbedaan ini adalah sisi menarik dari #amiaricollab sih menurutku. Kalian yang baca jadi bisa mandang dari 2 sisi yang berbeda. Contohnya kali ini tentang how to keep sane in this pandemi dari kacamata ibu yang beneran #dirumahaja (aku) dan ibu yang masih harus tetap pergi ke kantor untuk bekerja (nasar).

Ikutan kelas Online. Sesungguhnya sejak hamil dan aktifitas di luar rumah agak berkurang, aku mulai mencaritau kelas-kelas online yang bisa aku pantengin, yang sesuai sama minatku saat itu tentang psikologi, atau manajemen atau finance, dan kalau bisa free hahaha. Tapi seingatku susaaah waktu itu nemu kelas online yang cocok. Sampai akhirnya setelah Mokka lahir mulai menemukan tuh aku kulwap-kulwap gitu. Dan begitu semua orang #dirumahaja, mendadak menjamur lah itu kelas online. Mana kelas online yang dibuat sama folowingnya (Instagram) aku tuh materinya berasa menarik semuaa dan narasumbernya kece-keceee! Inilah salah satu blessing in disguise yang aku sebutin di atas tadi. Impulsiflah mamak jajan tiket kelas online hahaha sampe minta subsidi juga ke bapake biar wang jajan mamak bisa tetep buat “jajan” yang sesungguhnya hehe. Eh tapi kalau kelas online biasanya sebutan biaya nya tuh “investasi” karena sesungguhnya kalau kita bener ngikutin kelasnya mah memang akan jadi investasi sih. Contoh nyatanya kaya kelas clodi yang kuikuti yang biayanya Rp 20000 akan bisa bikin saving ratusan ribu bahkan jutaan kedepannya.

Berclodi. Clodi ini juga jadi salah satu yang personally bikin aku tetap waras. Instead of bikin stress karena cuciannya, aku malah excited karena clodi selain bikin aku terus-menerus kepo buat nyari tau dan belajar all about clodi, clodi juga bahkan bikin aku semangat sharing ke circle ku. Yangmana sharing yang terdiri dari motret, ngedit, nulis caption itu merupakan self care buatku. Apalagi kalo tau ternyata ada yang baca apa yang aku bagikan, sampai jadi tertarik dan nanya-nanya ke aku juga. Huhuhu seneng banget akutu. Alhamdulillah mudah-mudahan bisa jadi amalan ilmu yang bermanfaat :’) aamiin. Oiya buat yang tertarik clodi bisa intip postinganku tentang clodi dan review clodi polos yaaa.

Lanjuut. Di masa pandemi ini banyak usaha lokal yang terdampak, sampe pada diskon harga, tapi disela-sela itu masih banyak juga yang bikin giveaway! Andaruni adalah salah satu orang yang kabeukina mencoba peruntungan di berbagai giveaway hahaha dan surprisingly selama pandemi aku dapet hadiah dari 3 giveaway dong huhuhu MasyaAllah. Sebenernya seneng aja sih akutu ikutannya, dan memang aku cuma ikutan di produk-produk yang menarik buatku aja kan yaa, dan produk-produk yang menarik buatku memang biasanya tanpa ada giveaway pun suka otomatis aku share di story (Instagram) sih hahaha jadi ya emang seneng aja, kalo dapet hadiahnya ya Alhamdulillah. Menurutku kalo ikutan giveaway ya mindsetnya emang harus gitu sih, jangan baper. Suka sedih akutu kalo keliatan ada yang tulus bikin giveaway tapi pas baca komentarnya tuh pada kecewa karena ga menang. Kasian aja sama yang bikin, kebayang niat baiknya bikin orang seneng eh malah banyak yang kecewa.

Done tentang ngisi pikiran!

Dua hal selanjutnya ini adalah yang sebetulnya diluar kebiasaan, tapi ternyata bikin waras saat pandemi. Pertama adalah ga dengan sengaja rutin baca berita, terutama berita tentang covid. Awal-awal sih kepo banget ya mantau perkembangannya tiap saat. Tapi akhirnya aku hanya “makan” berita yang dibutuhkan saja, misalnya seperti protokol perlindungan diri dan keluarga, info-info makanan yang baik dikonsumsi selama covid. Rasanya spoiler per covid an dari socmed juga sudah lebih dari cukup. Dan ketika ada spoiler yang bikin ingin tahu, barulah aku cari tau sendiri. Demi menghindari cemas dan panik sendiri. Kemudian yang kedua, videocall! Akutu bukan phonecall person banget. Apalagi videocall. Lebih nyaman dengan text. Videocall suka sih dengan orangtua di Bandung, tapi ya biasanya yang nampang juga Mokka aja yang di layar hahaha. Tapi ternyataaa ngobrol “langsung” dengan yang terdekaat, setelah sekian lama tak bersua, sungguh bikin refresh bangeet.

Padahal ngalor ngidul aja, update singkat kehidupan. Tapi ngerumpi “langsung” sama mereka tuh rasanya bener-bener bikin lebih hidup hahaha ga lebay asli. Beda ternyata ngobrol via chat atau replies story (Instagram) sama ngobrol di videocall yang bikin kita bisa saling liat ekspresi dan denger intonasi suara. Berasa waas sama karakter masing-masing, yang walaupun sudah bertahun-tahun kenal, lama ga jumpa juga, tapi tetap adalah pribadi yang sama 🧡 :”)

Itulah sedikit ceritaku tentang menjaga kewarasan selama pandemi ini. Walaupun banyak juga hikmahnya, tapi tentu saja kita semua tetap berharap agar pandemi ini segera berakhir di Indonesia. Dan walaupun masih banyak ternyata warga +62 yang belum paham maksud dan tujuan #dirumahaja bahkan masih ngotot mudik, tapi aku percaya Allah akan selalu menjaga orang-orang yang berusaha menjaga Indonesia dengan tetap #dirumahaja. Terakhir, tentu saja terima kasih banyak yaaa yang sudah bacaa. Intip juga postingannya Nasar yang berbagi tips cociks menjaga kewarasan di masa pandemi yaaa. Mari kita terus berdoa demi kesehatan dan keselamatan kita semua hingga pandemi ini benar-benar berakhir. Until next timee 🙂

2 thoughts on “Hal-hal yang Menjagaku Tetap “Waras” Selama #DiRumahAja

Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

Create a website or blog at WordPress.com

Up ↑

%d bloggers like this: